MALAIKAT
Dia malaikatku. Aku jatuh cinta sejak
pertama kali berjumpa dengannya. Ada rasa akrab yang hangat, seolah aku telah
mengenalnya seumur hidupku. Sejak pertemuan pertama kami, aku selalu
terbayang-bayang wajahnya. Temanku bilang dia tidak ganteng. Aku bilang dia
laki-laki paling menawan yang pernah kutemui. Temanku bilang seharusnya aku
mencari pacar dengan badan lebih tinggi, akan lucu jika melihat pasangan
kekasih berjalan berdua, namun sang lelaki bertubuh lebih pendek dari
wanitanya. Aku tak peduli, tinggi badan tidak penting bagiku. Bagiku dia
pahlawan. Tidak akan ada lelaki yang seperti dia, lelakiku. Temanku tidak akan
mengerti. Ada begitu banyak hal yang tak bisa kuceritakan padamu, kawan. Kau
tidak akan mengerti.
Sebulan yang lalu dia melamarku. Aku
senang sekali. Aku akan menghabiskan sisa umurku dengannya, orang yang
kucintai. Tapi tunggu. Ada hal yang harus aku ceritakan padanya. Sayang sekali
dia tidak mau mendengarkan. Katanya dia mencintaiku apa adanya, dan ingin
menikah denganku. Secepatnya. Sungguh, aku tidak menduga akan bertemu malaikat
seperti dia. Tidak akan ada lelaki lain yang seperti dia. Aku yakin.
Hari ini kami menikah. Satu jam lagi. Aku
masih duduk di depan cermin, tempat Mamak mendandaniku tadi. Tapi entah kenapa,
aku tidak merasa gembira. Seperti ada lubang kosong di dadaku. Ini aneh. Sudah
sejak beberapa minggu yang lalu aku sangat bersemangat, membayangkan
kehidupanku berdua dengannya sebagai suami isteri yang saling mencintai. Kami
akan menghabiskan waktu untuk tinggal berdua di pondok kecil miliknya. Kecil
saja, dindingnya terbuat dari susunan papan kayu. Atapnya dari daun nipah.
Lantainya terbuat dari tanah yang dikeraskan, dialasi tikar anyaman dari daun
pandan. Ya, kami akan tinggal di tengah huma, tempat suamiku bekerja. Tidak ada
listrik di sana. Tapi tak mengapa, aku yakin aku akan senang. Kami akan hidup
berdua dengan damai, jauh dari orang-orang yang senang bergosip. Dan bapak.
Dua hari yang lalu dia mengajakku ke
rumahnya di huma, memintaku untuk merapikan beberapa bagian rumah. Ia ingin
rumah itu dapat segera ditempati dengan nyaman begitu kami menikah. Ia lalu
meninggalkanku ke huma, untuk memeriksa tanaman yang rusak diganggu babi liar.
Aku mulai membersihkan beberapa barang, pakaian kotor yang berserakan, dan merapikan
alat-alat makan di lemari kayu di dapur.
Ada peti kayu di sudut dapur. Tidak
menarik, hanya peti dari kayu sengon yang tidak dihaluskan permukaannya.
Terlihat paku-paku dan engsel yang berkarat di sudut-sudutnya. Tidak terkunci.
Aku membukanya. Isinya buku-buku. Ada al-qur'an, beberapa dokumen, dan gulungan
kertas. Tunggu. Ada amplop warna merah terselip di antara lembaran Qur'an. Aku
mengambil dan membukanya. Aku terkejut. Ada foto kakakku di sana. Kakak
perempuanku yang cantik. Ia tidak setinggi aku, tapi kulitnya putih dan
berhidung mancung. Banyak pemuda di desaku menyukainya. Tapi kakakku memilih
untuk pergi merantau ke kota, bekerja di rumah makan.
Aku tidak mengerti. Dia, calon suamiku,
menyimpan foto kakakku. Ada selembar kertas bersama foto itu di dalam amplop
merah tadi. Aku membukanya. Surat. Itu tulisan kakakku. Ya, aku sangat hafal
goresan tangan kakak perempuanku. Dia yang sejak kecil mengajariku menulis dan
membaca. Tak ada yang berubah dari tulisannya. Goresan yang halus, huruf-hurufnya
panjang dan langsing. Ia dapat menulis dengan lurus dan rapi walaupun kertasnya
polos, tidak memiliki garis-garis untuk menulis. Aku membacanya. Perlahan.
Berkali-kali.
Ibu.
Dia sudah meninggal sejak aku kelas 3 SD. Ibu dulu sering menangis di dapur,
memegangi pipinya yang lebam. Aku tahu, bapak sering marah dan memukul ibu.
Tapi sejak ibu meninggal, bapak tidak menikah lagi. Bapak sering tidur di kamar
kakak. Kata bapak kakak takut tidur sendirian. Bagiku tidak apa-apa. Bapak
sudah sering menemani kakak tidur sejak ibu masih hidup. Tapi entah kenapa,
ibuku dulu tidak suka. Ibu sering menangis ketika tahu bapak tidur di kamar
kakak.
Dua tahun lalu kakak pergi ke kota. Bapak
marah. Kakak tetap pergi. Sejak kakak pergi, bapak tidur di kamarku. Kata bapak,
tidak apa-apa. Bapak juga dulu seperti itu bersama kakak. Bapak bilang kami
bersenang-senang. Tapi aku tidak senang. Aku tidak suka. Aku takut. Tapi bapak
marah. Kata bapak, aku harus nurut. Kata bapak, tidak ada lagi orang lain yang
sayang padanya. Cuma aku. Jadi aku harus nurut. Aku sayang bapak, aku tidak
ingin bapak marah dan memukulku seperti ibu. Jadi aku nurut.
Empat bulan yang lalu, aku berkirim surat
ke rumah makan di kota, tempat kakak perempuanku bekerja. Aku bingung. Aku
sakit. Masuk angin, tapi aku tidak sembuh-sembuh. Aku sudah bilang bapak. Bapak
menyuruhku minum jamu. Aku tidak tahu jamu apa itu, rasanya sangat pahit.
Setelahnya, perutku bertambah sakit, luar biasa. Esoknya bapak bertanya, apak
sudah keluar. Aku bingung, tidak ada apa-apa yang keluar dari perutku. Kakak,
ada apakah denganku?
Dia, malaikatku. Aku akan menikah
dengannya. Aku baru mengenalnya tiga bulan yang lalu. Aku jatuh cinta padanya.
Aku tak pernah tahu mengapa ia begitu baik padaku. Tidak ada laki-laki lain
yang seperti dia. Tapi sekarang aku tahu. Di surat itu, kakakku yang meminta.
Kakak bercerita jika aku hamil, dan perlu diselamatkan dari bapak. Ya, aku
kemudian tahu aku hamil. Bapak yang bilang, ada bayi di perutku. Bayi kami.
Tapi aku tidak mengerti kenapa aku harus diselamatkan dari bapak. Bukankah
kakak juga dulu tidur di kamar bersama bapak di rumah setiap hari, sebelum
pergi ke kota? Bapak bilang itu hal yang biasa, karena kelak aku juga akan
seperti itu bersama laki-laki yang menikahiku. Bersenang-senang. Apakah kakak
marah padaku, karena sekarang bapak tidur denganku? Kenapa aku perlu
diselamatkan?
Dia, malaikatku. Kemarin lusa ia
melihatku membaca surat itu di dapurnya yang kecil. Dia terdiam sebentar, lalu
mengajakku duduk berdampingan di kursi. Dia meminta maaf padaku. Dia mencintai
kakakku. Tapi kakak ingin dia menikah denganku. Dia bilang akan menikahiku.
Tapi akan menceraikanku segera setelah bayiku lahir. Dia ingin menikahi
kakakku. Dia, malaikatku. Tidak. Aku tidak ingin dia menjadi malaikatku hanya
sebentar, hanya sampai bayi ini lahir. Tidak, aku ingin dia menjadi malaikatku
selamanya. Selama-lamanya.
Satu jam lagi kami akan menikah. Ada
lubang kosong di dadaku. Tidak apa-apa. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu,
malaikatku. Hadiah perkawinan kita. Hadiah itu, akan kuberikan padamu esok
pagi. Di rumah kita. Di huma. Bersama secangkir teh hangat yang manis. Tenang,
malaikatku. Aku berjanji kau akan menikmatinya. Tidak ada rasa pahit di dalam
teh itu. Hanya ada rasa manis. Rasa manis yang hangat. Kau akan menjadi milikku
selamanya. Karena kau hanya milikku, malaikatku. Selamanya.
Jhon tidak pernah mengerti mengapa dia dipasung macam ini. Teringat kembali 3 tahun lalu ketika kaki-kaki kekarnya melangkah bergegas menuju tempat pembakaran sampah. Tangannya gemetar, nafasnya pendek tidak beraturan, matanya melotot menahan amarah namun bibirnya pucat seakan menahan ketakutan yang amat sangat. Tempat sampah itu adalah kebun kosong milik salah seorang warga yang entah dimana kini dia berada, sudah hampir 10 tahun sejak Jhon pindah ke lingkungan itu, belum pernah sekalipun dia berjumpa dengan sipemilik tanah. Hanya namanya terngiang dikepala tanpa tahu seperti apa bentuk muka. Jalanan aspal lembab sisa hujan semalam seakan ikut menahan langkah Jhon untuk lekas sampai. Namun itu tak menyurutkan otot-otot kaki Jhon untuk semakin bergegas. Setelah hampir 6 menit akhirnya Jhon sampai di tempat pembuangan sampah warga sekitar. Langkahnya sempat terhenti, dan matanya liar tak beraturan seakan lepas dari engsel, tak terkendali. Dikepala Jhon hanya satu tujuan yang ia cari, selembar kertas berwarna kehijauan. Bukan, bukan lembaran dollar, bukan juga lembaran rupiah tapi cek. Ya, sebuah cek berniai ratusan juta rupiah milik konsumen yang seingat dia tercecer dengan sampah-sampah kertas lainnya yang dia bereskan 2 hari yang lalu.
BalasHapus