Aku dan Kopi
Aku lelah. Masih
tersisa setengah cangkir kopi di atas meja. Aku hanya menatap, bimbang apakah
akan aku habiskan atau aku biarkan saja untuk kemudian dibuang oleh staf bagian
pantry. Tak ada yang tersisa dariku, hanya kopi. Karena kopi, atasanku
sering datang menghampiri ke meja kerja, mengajak ngobrol, dan mengundang
lirikan dengki rekan perempuanku yang lain. Karena kopi, para calon klien lebih
memilih untuk datang ke meja ku untuk mengadukan urusan mereka. Karena kopi,
para isteri atasan dan isteri rekan kerja tidak melibatkanku dalam acara-acara gathering.
Ya, hanya karena kopi.
Aku masih ingat
saat hari terakhir di sekolah TK. Aku pulang berlari. Dadaku penuh, rasanya
seperti hendak meledak. Aku tidak sabar lagi. Ibuku harus tahu. Guru-guru di
sekolah memujiku. Kepala sekolah menyebut namaku. Teman-temanku bertepuk
tangan. Ibu, aku juara umum. Ibu, aku ingin melihatmu tertawa, memelukku dan
melemparku ke udara. Ibu, aku pulang. Tapi tidak, tak ada ibu di rumah. Aku
lihat cangkir yang pecah di lantai ruang tamu. Cairan kopi menggenangi lantai.
Aku ke kamar, tidak ada ibu. Aku ke dapur, hanya ada bapak. Duduk menangis. Aku
tanya bapak, mana ibu. Bapak tidak menjawab. Bapak menangis. Ada pisau di
sebelahnya, tergeletak di lantai. Ada cairan warna merah di pisau itu. Di
tangan bapak juga.
Bibi datang dan
menarikku ke luar rumah. Tetanggaku ramai. Aku dengar mereka bicara. Tidak
jelas. Hanya beberapa kata. “Pelacur”, “Gatal”, “Murahan”. Tak lama polisi
datang. Membawa ayah pergi. Aku tak pernah melihatnya lagi. Juga ibuku. Setiap
aku bertanya bibi, bibi menyuruhku pergi ke tanah pemakaman. Ada papan kecil
disana. Ada nama ibuku. Tapi kenapa ibuku di dalam sana. Tak ada yang mau
menjelaskannya padaku. Aku hanya ingat cangkir kopi itu, yang pecah di lantai.
Siapakah yang akan membersihkannya? Tak ada ibu di rumah.
Tak ada yang
tersisa. Umurku 25. Aku bekerja keras agar dapat menghasilkan uang. Tujuan
akhirku harus tercapai. Jangan lama-lama. Harus secepatnya. Strategi harus
diubah. Aku masih belum bisa mengumpulkan uang seribu dollar itu. Belum lagi
persyaratan legal lainnya. Tes-tes psikologi. Mustahil. Aku tak akan dapat
memiliki pistol itu. Pistol dengan butir peluru perak murni. Hanya satu butir
saja. Aku tidak membutuhkan butir peluru yang kedua. Aku yakin akan berhasil.
Tepat pada sasaran. Tak perlu ada tembakan kedua. Tapi tidak, sekeras apapun
aku bekerja dan mengumpulkan uang, pistol itu tetap tak akan mampu untuk aku
beli.
Aku pulang, letih.
Tertidur di atas kasur. Terbangun, entah jam berapa. Aku merasakan tangan
suamiku meraba bagian tengkuk. Aku mengerti maksudnya. Tapi tidak. Aku
menepiskan tangannya, bangkit, berjalan ke dapur, membuat kopi. Tidak, dia
tidak menyusulku ke dapur. Dia juga tidak protes, ataupun marah. Bahkan dia
tidak melakukan apa-apa. Dia tidak perlu bertanya.
Aku tidak akan
pernah melupakan peristiwa tahun lalu. Ketika sore hari aku berlari pulang ke
rumah karena kehujanan. Di samping jendela, suamiku berdiri memeluk tubuh
seorang wanita yang sedang telanjang. Wanita asing yang tidak ku kenal. Aku
melihat tangannya. Tangan suamiku yang hitam dan kekar, meremas-remas buah dada
wanita itu. Wanita dengan buah dada kecil dan bertatto. Aku masih ingat
tattonya. Tatto bunga tulip kecil di payudara kiri bagian atas. Tidak. Aku tidak
akan membiarkan lagi tangannya menyentuhku. Tangan yang kotor. Aku akan lebih
suka bersentuhan dengan kotoran babi di peternakan kakekku di desa. Tidak.
Tidak tangan suamiku.
Hey, ada yang
berbeda dengan kopiku kali ini. Cangkirnya begitu berkilau. Permukaan kopi yang
hitam begitu memikat. Ah, aku tahu. Aku teringat botol kecil yang aku beli
minggu lalu di apotek. Ya, aku beli secara illegal, tentu saja. Aku hanya butuh
sedikit. Tapi tak apa. Yang penting berhasil, bukan? Walaupun yang aku inginkan
bukan dengan ini. Harganya jauh lebih murah dari pistol itu. Pistol yang ingin
aku miliki sejak aku duduk di kelas dua SD. Tapi aku tidak akan mampu
memilikinya, dan aku tak ingin menunggu lebih lama.
Tuhan, ini sungguh
sakit. Entah kenapa aku jadi teringat pada-Mu. Tuhan, tolong aku. Aku terbakar.
Aku berusaha muntah, tapi tak bisa lagi kukeluarkan kopi itu dari perutku.
Tuhan, tolonglah, aku hanya memasukkannya sedikit saja. Tolong hilangkan rasa
sakitku. Tuhan, tolong. Setidaknya, cepatlah cabut nyawaku. Tuhan, kau tahu kan
bahwa ini yang aku inginkan? Setidaknya, bantulah aku mewujudkannya. Tuhan,
apakah Kau marah padaku?
Komentar
Posting Komentar