BELAHAN JIWA
Sepi. Aneh. Tak ada suara apapun di sini.
Berbeda dengan kemarin, dan hari-hari sebelumnya. Aku berpikir sejenak, tidak
merasa seperti telah terjadi sesuatu. Semua berjalan seperti biasanya. Sepuluh
menit yang lalu aku bangun, tepat pukul 07.00 pagi. Seperti biasa, aku berjalan
ke kamar mandi. Aku buang air kecil, menggosok gigi, mencuci wajah, membasuh
dan menyisir rambutku. Setelah dari kamar mandi, aku berjalan menuju dapur
untuk duduk dan sarapan. Sarapan seperti yang biasa kau sajikan, segelas jus jeruk
dan dua tangkup roti bakar mentega. Tapi pagi ini berbeda. Tidak ada kau di
dapur. Tidak ada segelas jus jeruk dan dua tangkup roti bakar untukku.
Panci-panci dan wajan kotor tergeletak tak beraturan di atas meja dapur. Aku dapat melihat percikan noda lemak kotor
beku di sekitar permukaan kompor, sisa masakanmu kemarin pagi. Kau lupa
membersihkannya, isteriku. Seharusnya kau dapat berlaku lebih bersih terhadap
dapurmu, dapur kita. Kau tahu aku akan marah melihat dapur yang kotor dan
berantakan. Seharusnya aku dapat mendidikmu dengan lebih keras, isteriku.
Aku berjalan menuju dispenser air minum,
menuangkan isinya ke dalam gelas bening yang ramping dan bergambar bunga melati
di sisi luarnya. Aku berjalan membawa gelas itu menuju kursi makan dan duduk,
meminum isinya seteguk, dan meletakkan gelas itu di atas meja. Aku berpikir,
berusaha mengingat dan mengumpulkan puzzle-puzzle ingatanku tentangmu. Tentang
dirimu yang cantik dengan rambut coklat bergelombang sebahu, yang lebih suka
kau biarkan terurai. Wajahmu yang berkulit pucat dengan hidung ramping dan
bibir tipis. Bibir yang jarang sekali tersenyum, bahkan aku tidak pernah
melihatmu tertawa di sepanjang usia pernikahan kita. Tunggu. Ada satu kali aku
melihatmu tertawa. Ya, minggu lalu. Malam itu aku pulang larut karena harus
bekerja lembur. Aku letih. Aku melihatmu masih terjaga, sedang duduk di sofa
ruang tengah menonton televisi, sendirian. Kau sangat cantik malam itu. Kulitmu
yang pucat sangat kontras dengan warna sofa yang cokelat tua. Kau mengenakan gaun
malam sepanjang lutut tanpa lengan, dengan pita merah muda yang tersimpul di
depan dada. Kau sangat cantik dengan rona pipi merah muda, tidak pucat seperti
biasanya. Tapi bukan kecantikanmu yang membuatku terpana. Kau tertawa. Ya, kau
tertawa menonton acara di televisi itu. Itu aneh bagiku. Menggangguku sepanjang
sisa minggu kemarin.
Tawamu malam itu seperti menusukku dari
belakang, seolah menunjukkan sisi dirimu yang tidak ku kenal. Seharusnya aku
bisa mendidkmu lebih keras, isteriku. Lebih keras dari ayah mendidik ibuku
dulu. Aku tidak pernah suka ayah. Ia selalu membuat ibu menangis. Tetapi
seperti itulah seharusnya laki-laki. Mendidik isterinya dengan keras. Karena
tawamu malam itu, aku mulai berpikir untuk memberimu hukuman, isteriku. Tidak
hanya tamparan di pipi seperti biasanya. Bagaimana dengan cambuk, terdengar
lebih baik? Aku yakin kau akan menyukainya, isteriku. Kau akan menjadi lebih
patuh padaku. Dengan demikian aku dapat menyelamatkanmu. Hal yang tidak bisa
aku lakukan terhadap ibuku dulu. Aku harus mendidikmu lebih keras dari pada
ayah mendidik ibu, agar kau tidak menjadi seperti ibuku.
Tidak banyak ingatanku tentang ibu. Ia
sangat pendiam, sama sepertimu, isteriku. Hanya ada sedikit potongan puzzle
tentangnya. Saat itu aku masih berusia 6 tahun. Aku baru pulang sehabis
bermain, lapar, dan ingin makan siang. Aku melihat ibu di dapur, menangis.
Seorang lelaki memeluknya. Bukan ayahku. Ia Om Tera, tetangga sebelah rumah
kami. Aku ingat ayah datang melewatiku, menghampiri ibu, menarik rambut ibu dengan
kuat sampai ibu terjatuh di lantai. Ayah meneriaki Om Tera, dan Om Tera
berjalan ke luar rumah dengan tergesa-gesa, seperti takut terhadap ayahku.
Wajah ayah merah, matanya seperti hendak meloncat keluar. Ayah mengambil
sebilah pisau yang biasa ibu gunakan untuk memotong daging. Ayah menusukkan
pisau itu ke tubuh ibu yang masih terduduk di lantai, berkali-kali. Ayah
menusuk sambil berteriak. Aku tidak ingat apa yang diucapkan ayah waktu itu.
Aku hanya melihat ibu. Ibu berteriak-teriak kesakitan, menangis, dan menatapku.
Tatapan memohon. Tatapan putus asa. Aku hanya terdiam melihat ibu. Suara ibu
melemah, berganti menjadi lenguhan, seperti suara sapi yang dipotong di depan
masjid ketika hari raya Qurban. Tubuh ibu bergerak-gerak cepat, mengejang, dan
menggelepar sebelum kemudian terbujur kaku. Matanya melotot. Tubuhnya basah,
berwarna merah. Hening sejenak. Lalu ramai. Suara orang-orang di luar. Suara
sirine mobil polisi. Suara Om Tera. Aku masih berdiri di dapur, menatap ayah,
bingung. Ayah juga mendengar suara-suara itu. Suara orang-orang yang mendekat
menuju ke arah kami. Ayah mengangkat pisau yang sedari tadi masih dipegangnya,
menusukkan pisau itu ke tubuhnya sendiri. Tepat di dada kiri. Tubuh ayah kaku
sejenak, sebelum jatuh tersungkur ke lantai.
Aku menatap gelas di atas meja.
Meminumnya lagi seteguk. Melihat jam di dinding, pukul 07.30. Sudah 20 menit
aku duduk di dapur. Sendirian. Melamunkan tentangmu, isteriku. Aku melempar
pandangan ke luar jendela dapur. Rumpun mawar yang kau tanam sedang mekar,
isteriku. Indah sekali. Agak jauh, aku dapat melihat dinding rumah tetangga
kita, dinding dari susunan kayu yang rapi dan di cat biru muda. Sangat serasi
dengan bunga mawar mu di halaman yang berwarna putih dan kuning. Ah, sekarang
aku tahu mengapa kau suka sekali menatap ke luar jendela dapur, isteriku. Aku
yakin bukan hanya karena rumpun mawar yang indah itu, bukan? Kemarin aku
melihatmu, saling bertatapan mata dan melempar senyum dengannya. Lelaki pemilik
rumah bercat biru muda. Ya, aku tahu kau tidak menyapanya. Tapi kau tersenyum
padanya. Senyum yang hampir tidak pernah aku lihat. Aku ingin sekali bertanya
padamu, isteriku. Aku ingin tahu apakah lelaki itu juga yang membuatmu tertawa
beberapa hari sebelumnya, malam itu, saat kau menonton acara televisi
sendirian? Seharusnya aku mendidikmu dengan keras, isteriku. Lebih keras dari
ayah mendidik ibuku dulu.
Sudahlah. Cukup ingatanku tentangmu,
isteriku. Aku bangkit berdiri, berjalan menuju kulkas, dan memeriksa isinya.
Tampaknya mulai hari ini aku harus terbiasa untuk menyiapkan sarapanku sendiri.
Ah, sup sepertinya enak. Aku mengambil sepotong kaki yang baru aku bekukan
semalam. Sayur-sayuran. Membawa bahan-bahan masakanku ke westafel, mencucinya.
Kaki itu sangan mulus, ramping, dan pucat. Masih terlihat lapisan kuteks warna
merah muda di kukunya. Aku tersenyum, ada desiran aneh seperti sengatan listrik
kecil di dadaku, membuatku menjadi sangat bergairah. Aku selalu menyukai
masakanmu, isteriku. Tapi aku yakin sup buatanku akan enak sekali. Lain kali aku
akan memasak, dan menyuapimu makan. Kau jangan khawatir. Kepalamu adalah bagian
paling berharga bagiku. Aku akan tetap menyimpannya beku di dalam kulkas, untuk
disantap terakhir, setelah bagian-bagian tubuhmu yang lain habis di masak
terlebih dahulu. Aku mencintaimu isteriku, kaulah belahan jiwaku. Dan kau akan
menyatu di dalam ragaku, selamanya.
Komentar
Posting Komentar