Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

CINTA YANG LEBIH BESAR

Aku masih duduk sendirian di bangku panjang kayu di taman dekat trotoar yang berhadapan langsung dengan apartemen tempat tinggalku. Melirik sekilas pada Invicta Angle bulat berbingkai emas dan tali strap putih yang melingkar manis di pergelangan lengan kiriku, pukul 20.13 waktu setempat. Saat ini akhir musim gugur, cuaca tampak tenang dan agak hangat. Angin berhembus pelan membawa sisa-sisa helaian daun kering berwarna cokelat yang gugur, melayang di udara, sebelum akhirnya jatuh di atas konblok persegi panjang yang tersusun rapi di sekitar taman. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang di taman. Seorang gadis berusia sekitar 23 tahun berjalan cepat sambil berbicara di telepon genggam. Lengan kirinya dimasukkannya ke dalam saku lengan long-coat yang dikenakannya. Ujung syal yang berwarna abu-abu terlihat berkibar-kibar seirama dengan kibaran rambut ikalnya yang panjang sepunggung. Kakinya yang dibungkus boots panjang selutut warna cokelat tua dengan hak 12 cm berjalan mant...

MALAIKAT

Dia malaikatku. Aku jatuh cinta sejak pertama kali berjumpa dengannya. Ada rasa akrab yang hangat, seolah aku telah mengenalnya seumur hidupku. Sejak pertemuan pertama kami, aku selalu terbayang-bayang wajahnya. Temanku bilang dia tidak ganteng. Aku bilang dia laki-laki paling menawan yang pernah kutemui. Temanku bilang seharusnya aku mencari pacar dengan badan lebih tinggi, akan lucu jika melihat pasangan kekasih berjalan berdua, namun sang lelaki bertubuh lebih pendek dari wanitanya. Aku tak peduli, tinggi badan tidak penting bagiku. Bagiku dia pahlawan. Tidak akan ada lelaki yang seperti dia, lelakiku. Temanku tidak akan mengerti. Ada begitu banyak hal yang tak bisa kuceritakan padamu, kawan. Kau tidak akan mengerti. Sebulan yang lalu dia melamarku. Aku senang sekali. Aku akan menghabiskan sisa umurku dengannya, orang yang kucintai. Tapi tunggu. Ada hal yang harus aku ceritakan padanya. Sayang sekali dia tidak mau mendengarkan. Katanya dia mencintaiku apa adanya, dan ingin men...

DIA KEKASIHKU

Sepi dan dingin. Aku masih duduk di meja kerjaku. Sekilas ku edarkan pandangan ke sekeliling kamar. Sunyi. Tidak ada yang istimewa. Ranjang pegas besar dengan ukuran King mendominasi di tengah ruangan yang berukuran 4x6 meter. Keseluruhan dinding dicat putih polos. Satu-satunya hiasan di dinding adalah foto pernikahan kami yang dibungkus bingkai kayu jati polos dengan ukuran poster, digantung di dinding tepat di atas kepala tempat tidur.   Foto itu sudah berusia 10 tahun, seperti usia pernikahan kami. Aku tidak terlalu suka menatap foto itu. Wajahku terlihat janggal dengan sikap kaku dan mimik wajah yang serius. Sementara isteriku terlihat cantik dengan senyum manisnya yang terlihat bahagia. Tingginya hanya sebatas dadaku. Namun ia tetap terlihat luar biasa dengan gaunnya yang indah. Aku menurunkan pandangan ke arah kasur, pada isteriku yang sedang tertidur lelap.   Sekilas ia terlihat seperti sedang tersenyum. Sepertinya ia sedang bermimpi indah. Tubuhnya yang mungil tertut...

BELAHAN JIWA

Sepi. Aneh. Tak ada suara apapun di sini. Berbeda dengan kemarin, dan hari-hari sebelumnya. Aku berpikir sejenak, tidak merasa seperti telah terjadi sesuatu. Semua berjalan seperti biasanya. Sepuluh menit yang lalu aku bangun, tepat pukul 07.00 pagi. Seperti biasa, aku berjalan ke kamar mandi. Aku buang air kecil, menggosok gigi, mencuci wajah, membasuh dan menyisir rambutku. Setelah dari kamar mandi, aku berjalan menuju dapur untuk duduk dan sarapan. Sarapan seperti yang biasa kau sajikan, segelas jus jeruk dan dua tangkup roti bakar mentega. Tapi pagi ini berbeda. Tidak ada kau di dapur. Tidak ada segelas jus jeruk dan dua tangkup roti bakar untukku. Panci-panci dan wajan kotor tergeletak tak beraturan di atas meja dapur.   Aku dapat melihat percikan noda lemak kotor beku di sekitar permukaan kompor, sisa masakanmu kemarin pagi. Kau lupa membersihkannya, isteriku. Seharusnya kau dapat berlaku lebih bersih terhadap dapurmu, dapur kita. Kau tahu aku akan marah melihat dapur yang ...

Aku dan Kopi

Aku lelah. Masih tersisa setengah cangkir kopi di atas meja. Aku hanya menatap, bimbang apakah akan aku habiskan atau aku biarkan saja untuk kemudian dibuang oleh staf bagian pantry . Tak ada yang tersisa dariku, hanya kopi. Karena kopi, atasanku sering datang menghampiri ke meja kerja, mengajak ngobrol, dan mengundang lirikan dengki rekan perempuanku yang lain. Karena kopi, para calon klien lebih memilih untuk datang ke meja ku untuk mengadukan urusan mereka. Karena kopi, para isteri atasan dan isteri rekan kerja tidak melibatkanku dalam acara-acara gathering . Ya, hanya karena kopi. Aku masih ingat saat hari terakhir di sekolah TK. Aku pulang berlari. Dadaku penuh, rasanya seperti hendak meledak. Aku tidak sabar lagi. Ibuku harus tahu. Guru-guru di sekolah memujiku. Kepala sekolah menyebut namaku. Teman-temanku bertepuk tangan. Ibu, aku juara umum. Ibu, aku ingin melihatmu tertawa, memelukku dan melemparku ke udara. Ibu, aku pulang. Tapi tidak, tak ada ibu di rumah. Aku lihat c...