CINTA YANG LEBIH BESAR




Aku masih duduk sendirian di bangku panjang kayu di taman dekat trotoar yang berhadapan langsung dengan apartemen tempat tinggalku. Melirik sekilas pada Invicta Angle bulat berbingkai emas dan tali strap putih yang melingkar manis di pergelangan lengan kiriku, pukul 20.13 waktu setempat. Saat ini akhir musim gugur, cuaca tampak tenang dan agak hangat. Angin berhembus pelan membawa sisa-sisa helaian daun kering berwarna cokelat yang gugur, melayang di udara, sebelum akhirnya jatuh di atas konblok persegi panjang yang tersusun rapi di sekitar taman.

Tidak banyak orang yang berlalu-lalang di taman. Seorang gadis berusia sekitar 23 tahun berjalan cepat sambil berbicara di telepon genggam. Lengan kirinya dimasukkannya ke dalam saku lengan long-coat yang dikenakannya. Ujung syal yang berwarna abu-abu terlihat berkibar-kibar seirama dengan kibaran rambut ikalnya yang panjang sepunggung. Kakinya yang dibungkus boots panjang selutut warna cokelat tua dengan hak 12 cm berjalan mantap dengan langkah lebar. Aku menyeringai ngilu. Sampai saat ini di usiaku menjelang 35 tahun, aku masih tetap tidak dapat mengenakan heels tanpa takut terkilir.

Sepasang Lansia tampak duduk berdekatan di pojok taman, di bangku panjang dengan model yang sama dengan yang aku duduki saat ini. Tampak keduanya saling menggenggam tangan, namun wajahnya tidak terlihat jelas karena bayangan lampu taman yang menyorot dari arah belakang mereka. Di sebelah bangku itu tumbuh pohon willow yang ukuran batangnya mengesankan bahwa usia pohon tersebut sudah cukup tua.

Sepasang lansia itu mengingatkanku padamu. Pada janji kita. Dulu sekali, 15 tahun yang lalu, kamu datang tepat di depan kamar asrama, mengetuk, dan mengajakku berkenalan. Setelahnya, hampir setiap hari kamu datang ke ruang tamu asrama. Saat-saat yang membuat hati dan pemikiranku gelisah. Gelisah yang muncul karena kekhawatiran orang tua, tante-oom, dan kakak-kakakmu. Juga gelisah yang muncul dari rasa bersalahku terhadap Daeng ku yang marah. Sampai pada saatnya aku berhasil menyampaikan padamu tentang cinta. Cinta yang harus berkorban demi cinta yang lebih besar. Cinta yang membuatmu marah besar. Waktu itu kita berjanji. Tapi keikhlasan terhadap janji itu tidak semudah ucapan, bukan? Bahkan sampai saat ini, kita masih berharap takdir dapat diubah, mengikuti ego dan pengandaian semu.

Kamu ingat berapa kali kita bersekongkol dan menghancurkan harapan? Harapan yang dibangun olehmu dan dia. Harapan yang hancur karena kamu telah berjanji padaku. Harapan yang hancur karena kamu menagih janjiku padamu. Janji yang enggan engau tinggalkan begitu saja. Sampai tiba saatnya kamu merangkai harapan baru dengan dia yang lain, kita masih tetap bersekongkol dengan ego kita, dengan janji kita, dengan harapan-harapan semu kita. Ini sangat hebat, bukan? Kenyataan bahwa ego bisa mengalahkan segala-galanya, bahkan kepada cinta yang lebih besar. Ego yang membenarkan diri dengan beralaskan rasa, janji, dan harapan semu.

Lucu rasanya ketika teringat bahwa sampai saat ini aku memilih untuk tetap mengubur harapanku sendiri. Tidak sepertimu yang berusaha membangun harapan dengan dia. Aku menjauh darimu. Akal sehatku menyadari bahwa kita seharusnya tidak boleh bertemu lagi. Demi itu aku rela mengasingkan diri di benua lain yang sama sekali tidak aku kenal. Berjuang sendiri agar bisa tetap makan, belajar bahasa setempat, menyesuaikan diri dengan budaya mereka, sampai akhirnya aku sudah terbiasa dan menjadi bagian wilayah yang sebagian besar masyarakatnya sama sepertiku. Datang dari antah-berantah entah di mana, untuk lari dari masalah ataupun mencoba melupakan masalah di daerah asal, dan memulai lembaran hidup yang baru. Kamu tidak perlu khawatir padaku. Disini aku hidup damai, di negara dengan kasus kriminal terendah di dunia. Aku sehat, dan tetap cantik seperti waktu pertama kali kita bertemu.

Damaiku bukan berarti tenteram. Tetap saja, aku diliputi kekhawatiran. Aku semakin menua. Aku cemas, apakah ketika kelak kita bertemu kembali, kamu masih tetap tertarik padaku? Masih menginginkanku? Seperti janji yang dulu pernah terucap? Seperti imajinasi dan harapan-harapan yang kita bangun diam-diam dalam persekongkolan, dengan angan yang bergemuruh? Harapan yang menjadi ego dan menuntut pertemuan, yang menghancurkan harapan kamu dan dia, dan dia yang lain?

Kamu tahu kenapa aku pergi? Bukan karena cinta yang lebih besar, sayang. Tapi pada kerdilnya hatiku. Pada kesadaran akal sehatku. Kenyataan bahwa kamu memilih untuk membangun harapan bersama dia. Kamu memilihnya. Kamu menginginkannya. Tapi kamu tidak pernah membiarkanku pergi, seperti aku yang tidak pernah mau melupakanmu. Aku tidak pernah tahu kapan pusaran ini akan berakhir. Kamu tahu? Aku memiliki harapan licik yang baru. Tentang kamu. Tentang kita. Aku berharap, kelak kita bisa seperti pasangan lansia yang duduk di pojok taman itu. Saling bergenggaman tangan, dada penuh dengan rasa bahagia, berharap waktu berhenti berjalan. Kamu pasti menginginkan harapan itu juga kan? Tolong bantu aku untuk segera mewujudkannya. Tidak perlu memakan proses panjang seperti dia-mu yang pertama. Ijinkan kali ini aku berhasil. Aku berjanji, tidak akan ada jejak. Cukup kita buat seperti kecelakaan kecil biasa saja. Untuk seorang wanita yag sedang hamil besar, itu tidak sulit bukan? Lebih baik sekarang, sayang. Akan lebih merepotkan jika bayi itu segera lahir. Mungkin harapan kita tidak dapat sepenuhnya terwujud jika begitu. Kita dapat mengupayakannya bersama-sama kan? Aku berjanji akan pulang, dan tidak akan jauh lagi darimu. Tidak ada lagi cinta yang lebih besar. Yang ada hanya kamu dan aku. Cinta kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BELAHAN JIWA

Aku dan Kopi

PISAU