DIA KEKASIHKU


Sepi dan dingin. Aku masih duduk di meja kerjaku. Sekilas ku edarkan pandangan ke sekeliling kamar. Sunyi. Tidak ada yang istimewa. Ranjang pegas besar dengan ukuran King mendominasi di tengah ruangan yang berukuran 4x6 meter. Keseluruhan dinding dicat putih polos. Satu-satunya hiasan di dinding adalah foto pernikahan kami yang dibungkus bingkai kayu jati polos dengan ukuran poster, digantung di dinding tepat di atas kepala tempat tidur.  Foto itu sudah berusia 10 tahun, seperti usia pernikahan kami. Aku tidak terlalu suka menatap foto itu. Wajahku terlihat janggal dengan sikap kaku dan mimik wajah yang serius. Sementara isteriku terlihat cantik dengan senyum manisnya yang terlihat bahagia. Tingginya hanya sebatas dadaku. Namun ia tetap terlihat luar biasa dengan gaunnya yang indah. Aku menurunkan pandangan ke arah kasur, pada isteriku yang sedang tertidur lelap.  Sekilas ia terlihat seperti sedang tersenyum. Sepertinya ia sedang bermimpi indah. Tubuhnya yang mungil tertutupi selimut tebal, dan yang tampak hanya bagian wajah dan rambutnya saja. Sebagian rambutnya menutupi wajahnya yang cantik. Aku bangkit, menghampiri isteriku dan perlahan merapikan rambut yang mengenai wajahnya. Aku memandangi wajahnya. Tampak damai dan sangat polos, seolah-olah tidak memiliki beban hidup yang berat.
Aku melihat ke arah jam yang digantung di dinding dengan sisi yang berseberangan dengan foto pernikahan kami. Jam bulat minimalis dengan bingkai plastik berwarna hitam. Pukul 02.35 dini hari. Aku kemudian mengalihkan pandangan ke arah meja kerja di ujung ruangan , di sisi dinding dekat jendela lebar yang menghadap ke taman di samping rumah. Layar laptop masih menyala. Ya, ada banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tapi bukan itu yang mendorongku berlama-lama duduk di meja kerja malam ini. Dan malam-malam sebelumnya. Sejak beberapa bulan yang lalu. Dorongan yang tidak bisa aku hindari, seperti bisikan-bisikan yang datang dari dalam kepala. Dorongan yang kuat untuk selalu terhubung dengan kekasihku. Aku pernah berusaha untuk melawan dorongan itu, tapi sangat sulit. Aku menjadi sangat mudah marah terhadap isteriku. Pekerjaanku tidak bisa aku selesaikan dengan baik. Aku mengurung diri dan mengabaikan anak-anak. Ya, kedua anakku yang manis. Mereka biasanya selalu menungguku pulang ke rumah di sore hari untuk mengajak bermain. Tapi sekarang mereka tidak terlalu antusias lagi padaku. Mereka lebih sering menatapku ragu-ragu, seperti tidak yakin dengan apa yang aku harapkan.
Semuanya berawal sejak 6 bulan yang lalu, tepatnya satu minggu sebelum hari ulang tahun pernikahanku yang ke sepuluh. Ada panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak ku kenal sebanyak tiga kali, dalam waktu yang berdekatan. Aku mendapat kesan seperti panggilan penting. Namun ada sesuatu yang mendorongku untuk tidak menelepon kembali ke nomor tersebut. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk menyimpan nomor tersebut di memori teleponku. Aku mere-start teleponku, kemudian membuka aplikasi WA. Aku mengecek nomor telepon yang baru saja disimpan tadi, untuk mengetahui apakah terhubung ke aplikasi tersebut. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Pandanganku terpaku pada foto profil yang terpampang di sana. Foto wajah seseorang yang tidak asing, yang telah ku kenal lebih dari 15 tahun lalu. Seseorang yang selalu aku simpan di dalam hatiku. Aku menarik nafas sebentar, lalu dengan secepat kilat menelepon ke nomor tersebut. Aku mendengar suara seorang wanita di seberang telepon. Suara yang sama, yang dulu selalu membuatku bersemangat untuk bangun pagi dan bertemu dengannya. Suara yang selalu membuatku tersenyum bahagia. Tiba-tiba aku merasakan rindu yang sangat, dan ingin sekali memeluknya. Dia menanyakan kabarku. Jantungku berdegup sangat kencang, dan berubah dengan tiba-tiba. Dari rasa terkejut yang bahagia menjadi rasa cemas yang membingungkan. Ia mengabarkan ayahnya yang meninggal dunia, dan bertanya jika aku hendak berkunjung untuk terakhir kalinya. Itu permintaan yang tidak disangka-sangka darinya, setelah 11 tahun tidak berkomunikasi.
Panggilan telepon itu mendorongku untuk pergi berkunjung ke kota asalku. Ke rumahnya. Rumah kekasihku. Tepat di hari ulang tahun pernikahanku yang ke sepuluh. Ia sedang berduka, dan aku ingin berada di sisinya. Aku mengenalnya sejak kecil, sepanjang ingatanku. Ia gadis pintar di sekolah. Teman-temannya banyak, dan ia menjadi pemimpin kelompok. Aku telah terpesona padanya sejak kelas 1 SD. Ia sangat menarik, terlihat riang dan hampir selalu tertawa, namun juga  judes, dan pemberani. Aku ingat hampir selalu membuntuti dan mengajaknya bermain saat jam istirahat di sekolah. Namun aku membuatnya menangis, karena perilaku ku mengundang teman-teman lain untuk mengejek kami. Mereka bernyanyi sambil bertepuk tangan, dan mengadu kepada guru kalau aku dan dia berpacaran. Ia lalu menjauhiku, dan marah jika melihat aku berusaha mendekatinya. Kami berpisah di tahun berikutnya karena aku harus ikut orang tuaku pindah ke luar daerah. Dan tanpa sengaja, aku bertemu kembali dengannya saat kuliah. Ia tumbuh menjadi gadis yang sangat menarik. Tentu saja kami langsung menjadi akrab, dan aku memintanya untuk menjadi pacarku.
Aku masih ingat ciuman pertama kami. Ciuman dua orang remaja yang malu-malu, kaku, dan ragu-ragu. Ciuman yang hanya sekilas, namun selalu menjadi ingatan paling manis buatku. Tahun kedua hubungan kami, ia mulai berubah. Tubuhnya menjadi sangat kurus. Ya, itu semua salahku. Ia sangat menarik, dan aku menjadi sangat cemburu pada semua lelaki yang pernah memandangnya. Aku tidak tahan mendengar teman-temanku yang memuji kemolekan tubuhnya. Ia memiliki tubuh yang sangat indah, dengan pinggang ramping, dada penuh, dan pinggul yang berlekuk sempurna. Wajahnya manis dengan bibir yang sensual. Aku selalu berpikir jika setiap lelaki yang melihatnya pasti memiliki niat untuk bercumbu dengannya. Sampai suatu saat ketika kecemburuanku memuncak, aku membujuknya untuk bercinta. Tepat di usia hubungan kami yang baru menginjak 4 bulan. Malam itu, ia tidak terlihat senang, tapi ia juga tidak menangis. Aku tidak terlalu memikirkan perasaannya saat itu, karena aku sedang sibuk dengan egoku. Aku kemudian terjebak dengan asumsiku sendiri. Aku pikir dengan cara itu, kecemburuanku padanya dapat berkurang, bahwa ia telah menjadi milikku. Tapi ternyata tidak. Aku mulai protes pada pakaian yang dikenakan. Aku melarang dia untuk berdandan. Bahkan aku tidak suka walaupun ia hanya memakai bedak tipis di wajahnya. Aku tidak ingin ia terlihat menarik di mata lelaki lain. Dan setiap kali ia tidak menuruti kemauanku, aku akan mengancam untuk mengakhiri hubungan kami.
Aku merasa bersalah, tentu saja. Aku berusaha menyenangkan hatinya. Aku selalu ada untuknya setiap hari, menemaninya, dan membantu apa saja. Aku memasak dan mengirimkan makanan untuknya. Menemani belanja pakaian di Mall. Aku tidak suka ia pergi dengan teman-temannya, cukup denganku saja. Aku berharap ia mengerti. Aku tidak ingin kehilangan dia. Aku bersumpah akan menikahinya. Tidak tahu kapan, yang pasti setelah aku mampu mengumpulkan biaya pernikahan kami. Aku mencari pekerjaan part-time sambil menyelesaikan kuliahku. Aku rasa tidak ada masalah, toh keluarga kami juga sudah sangat akrab. Ayahnya sering mengundangku ke rumah dan mengajak mengobrol untuk mengisi waktu senggang di akhir pekan. Tapi perkiraanku salah. Setelah lulus kuliah, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di ibu kota. Ketika itu hubungan kami sudah berjalan lebih dari 4 tahun. Aku terkejut. Ayahnya juga. Rencana pernikahan kami sudah sangat matang. Tinggal menentukan waktunya saja. Tapi dia berkata, dia hanya ingin mengisi waktu senggang sebelum hari pernikahan kami. Aku merasa berat, tentu saja. Tapi aku tidak berhasil membujuknya. Aku tahu, saat itu, ia terlihat tidak bahagia. Ia semakin jarang tersenyum. Ia juga semakin jarang menggodaku untuk membuatku tertawa. Badannya pun semakin kurus. Aku tahu, apapun yang aku lakukan untuknya, tidak akan cukup. Dia kekasihku, aku ingin ia bahagia. Jadi aku mengalah. Ia pun pergi. Jarak jauh, aku meneleponnya setiap hari. Tidak terlalu menyenangkan. Obrolan kami biasanya berisi pertengkaran karena aku merasa cemburu dan menduga ia sedang bersama lelaki lain. Tak lama, ia tidak pernah mengangkat teleponku lagi. Aku sangat marah, menduga ia telah memiliki kekasih yang lain, dan memutuskan tidak akan pernah menghubunginya lagi.
Rasa kecewa mendorongku untuk merantau ke kota lain dan mencari pekerjaan. Tak lama, aku kenal dengan seorang wanita cantik, teman kerjaku di kantor. Ia sangat baik padaku. Teman kerja mulai menjodohkan kami. Ia tidak terlihat terganggu dengan sikap teman-teman yang ku anggap norak. Aku teringat kekasihku. Rasa sakit hatiku padanya masih sangat kuat, membuatku merasa sangat marah dan kecewa. Aku lalu berpikir, kenapa aku tidak mengajak menikah saja rekan kerjaku tersebut, sepertinya ia suka padaku. Perkiraanku tepat. Ia setuju untuk menikah. Kami lalu menikah. Semuanya berjalan dengan damai selama bertahun-tahun, hingga kami dikaruniai dua buah hati yang sangat manis. Dan aku masih menyimpan kenangan akan kekasihku. Jauh di dalam hati. Kekasih yang sangat aku cintai, namun juga sangat aku benci.
Kunjungan ke rumah kekasihku menghancurkan hidupku. Pernikahanku. Di usia pernikahanku yang ke sepuluh. Aku hanya berjumpa dengannya sebentar. Ia terlihat semakin cantik. Tubuhnya telah kembali berisi, dengan lekukan indah seperti saat kami berpacaran dulu. Aku yakin, tidak akan ada yang menyangka jika tubuh itu telah melahirkan 4 orang anak. Aku ingin memeluknya. Sangat ingin. Aku rindu padanya. Tapi tidak bisa. Ada seseorang di sana yang membuatku harus menahan diri. Jadi aku hanya menyapa sebentar untuk mengucapkan belasungkawa, dan segera pulang. Setelahnya, aku mulai tidak terkendali. Aku kembali pada obsesiku terhadapnya, terhadap kekasihku. Hampir sepanjang hari, setiap malam, aku berusaha untuk mengetahui keadaan dirinya. Dengan diam-diam, tentu saja. Aku berusaha mengetahui perkembangan dirinya dari beberapa sosial media yang digunakan olehnya. Kadang-kadang, aku juga mencoba menghubunginya secara langsung. Tidak selalu berhasil. Ia lebih sering offline. Bahkan jika pun terhubung, ia hanya menanggapiku seperlunya. Bahasanya cenderung formal dan seadanya. Itu mengecewakanku. Aku rindu suaranya yang manja dan usil, yang dulu selalu menggodaku agar tertawa. Ya, hanya dia yang berhasil membuatku tertawa dengan bersuara. Aku yang sangat pendiam dan jarang sekali tertawa. Bahkan tersenyum pun aku hampir selalu menutupi mulutku dengan tangan. Dulu, ia bersumpah akan membantuku agar lebih percaya diri. Ia berjanji untuk membantuku agar tidak pemalu lagi. Dia berusaha membantu agar aku tidak lagi gagap saat berbicara dengan orang lain. Dia bahkan membantuku mengerjakan skripsi, membantu berlatih untuk presentasi sidang ujian akhir. Dan aku berhasil. Berkat dia. Dia, kekasihku. Tapi kini aku kecewa. Aku merasa ia sengaja menghindariku. Mungkin ia memang sudah tidak mencintaiku lagi. Entah sejak kapan. Mungkin sejak malam itu, saat pertama kali aku mengajaknya bercinta. Mungkin saat itu aku telah mengecewakan dirinya. Menghancurkan cintanya padaku. Mungkin sejak malam itu, aku justeru telah menghancurkan diriku sendiri. Menghancurkan harapanku. Menghancurkan mimpiku untuk dapat hidup bersamanya di sepanjang sisa usiaku. Aku tidak dapat menyalahkannya. Aku tahu dia telah berusaha. Dengan sisa-sisa cinta yang ia miliki, ia tetap menyayangiku, mengorbankan dirinya untukku. Tapi sepertinya, rasa kecewa mengalahkan segalanya. Tidak, bukan kecewa. Mungkin aku terlalu cemburu padanya. Aku terlalu banyak menuntut, pada hal-hal yang tidak masuk akal. Mungkin itu yang membuatnya pergi.
Aku menikahi wanita cantik yang tidak kucintai. Ia lebih seperti hiasan bagiku. Mengagumkan saat dipandang. Itu saja. Tidak lebih. Aku tidak berhasrat padanya. Hubungan seksual kami hanya beberapa kali dalam setahun. Selalu isteriku yang meminta. Aku harus berjuang keras, mengumpulkan sisa-sisa ingatan saat dulu bercinta dengan kekasihku. Membayangkan isteriku sebagai kekasihku. Kekasih yang selalu aku rindukan, yang selalu aku bayangkan bercinta denganku setiap hari. Kekasih yang tawanya selalu membuatku gemas dan ingin memeluknya. Kekasihku, ia tidak secantik  isteriku, tapi aku sangat mencintainya. Isteriku tidak tahu apapun tentang kekasihku. Ia meyakini aku sebagai seorang lelaki yang pendiam dan pemalu, seorang suami yang baik dan tidak akan pernah berani untuk berselingkuh. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa ia salah. Sebulan yang lalu, ketika pada akhirnya ia mengetahui, kenapa aku pergi ke kota asalku tepat di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke sepuluh. Ia kecewa. Marah. Ia menghancurkan barang-barang di rumah sambil menyeracau. Ia membuang semua peralatan make-up dan kosmetik di meja riasnya. Ia mengurung diri di dalam rumah.
Puncaknya, suatu ketika di malam hari sepulangku kerja, ia menyerangku tepat di pintu masuk rumah. Ia menyodorkan foto kekasihku. Foto yang ia curi dari sosial media kekasihku, dan di cetak sendiri olehnya. Isteriku, ia menyeracau dan tertawa dengan keras. Ia menyebut kekasihku pelacur. Ia mengejekku, dan berkata bahwa ia tadinya penasaran secantik apa rupa kekasihku. Tapi ternyata tidak ada apa-apanya. Dia bilang aku buta, dan tidak bersyukur memiliki isteri cantik seperti dirinya. Emosiku tersulut. Aku menamparnya. Tamparan pertama sepanjang usia pernikahan kami. Aku terkejut dengan perbuatanku sendiri. Tapi isteriku tertawa. Semakin keras. Dia bilang pelacurku pasti sangat bangga karena telah berhasil membuatku menamparnya, menampar isterinya sendiri. Aku meninggalkan isteriku, masuk ke dalam kamar. Aku masih bisa mendengar tawa isteriku yang keras dan kemudian berhenti. Aku tidak tahu apa yang kemudian terjadi. Aku memutuskan untuk mengabaikannya. Aku perlu menenangkan diri. Aku lalu pergi ke kamar mandi dan membuka shower untuk mendinginkan kepalaku.
Keluar dari kamar mandi, aku mendengar suara anak tertuaku memanggil dari pintu kamar. Aku bergegas keluar dan mengikutinya berjalan ke arah dapur. Isteriku telah terbaring di lantai, dengan mulut penuh busa. Segera kami melarikannya ke rumah sakit. Aku tidak pernah tahu ia menyimpan herbisida di dapur. Aku tidak menduga ia akan senekat ini mengakhiri hidup. Tapi dokter berkata, dosis yang diminum sekitar 20 ml, jadi isteriku masih dapat diselamatkan dengan baik. Tapi, ketimbang merasa bersalah, aku justeru bersikap sinis terhadap isteriku. Jika ia benar ingin mati, seharusnya ia minum dalam dosis yang lebih besar. Aku rasa ia hanya menggertak, ingin membuatku merasa bersalah. Aku semakin terdorong untuk terhubung dengan kekasihku. Aku ingin berteriak pada kekasihku, memberitahunya, bahwa aku sangat merindukannya. Dan aku menjadi lebih abai terhadap isteri dan anak-anakku. Pulang larut. Pergi pagi-pagi sekali. Isteriku membiarkan saja. Ia tahu aku tidak ke mana-mana dan hanya menghabiskan waktu di kantor. Isteriku tahu aku terlalu pengecut untuk datang langsung pada kekasihku. Kekasihku yang kini telah memiliki suami.
Malam ini masih dingin. Kembali aku menatap jam dinding. Pukul 03.10 pagi. Aku lelah. Bangkit, aku matikan laptop, kemudian beranjak tidur di sisi isteriku. Aku menarik selimut untuk menghalau dingin. Menatap wajah isteriku yang seperti tersenyum. Aku berharap ia sedang bermimpi indah, bercumbu dengan pangeran impiannya. Yang menyayanginy, yang berhasrat padanya, yang mengajaknya bercinta setiap malam. Bukan aku. Aku ingin memiliki mimpiku sendiri. Bersama kekasihku. Mengulang masa-masa kami bercinta seperti dulu. Saat kami tidur bersama dan aku dapat memeluknya sepanjang malam. Saat aku bisa mencium bibirnya yang indah kapanpun aku mau. Dan aku berharap, esok pagi, ketika terbangun, aku memiliki energi yang lebih besar. Keberanian yang lebih besar. Untuk mencoba kembali agar terhubung bersamanya. Bersama kekasihku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BELAHAN JIWA

Aku dan Kopi

PISAU